Archive for the ‘jantung-paru’ Category

Udara Lembab Picu Gangguan Paru-paru

Mei 2, 2008

DARI semua kasus penyakit paru-paru tidak ada kaitan dengan kipas angin, seperti yang dipahami masyarakat saat ini. Penyakit paru-paru terjadi akibat kuman dan virus yang berkembang di
ruangan yang tingkat kelembaban tinggi yang masuk melalui saluran pernapasan.

SERING kita mendengar istilah paru-paru basah sehingga kita pun beranggapan paru-paru itu memang benar benar basah sehingga ada pemikiran perlu dikeringkan. Celakanya lagi, ternyata jenis penyakit ini dikaitkan dengan kipas angin listrik. “Ketika anak tidur, kipas anginnya jangan mengarah ke anak, nanti kena paru-paru basah,” begitu kata orang tua. Menurut dokter spesialis penyakit dalam RSMH Palembang, dr Zen Ahmad, SpPD (paru) kepada Sripo, Selasa (15/08 ) mengatakan antara kipas angin dengan penyakit paru-paru basah tidak ada hubungan samasekali. Bahkan pada dunia kedokteran, tidak dikenal istilah penyakit paru-paru basah. Hanya saja istilah awam ini dilakukan penyesuaian. “Mungkin saja paru-paru basah itu radang paru-paru sama dengan ada sebutan paru-paru kotor yang berarti TBC, begitu juga dengan paru-paru tenggelam yang berarti penumpukan cairan di efusi (rongga) pleura pada sisi paru-paru,” kata dr Zen Ahmad. Dari semua kasus penyakit paru-paru tidak ada kaitan dengan kipas angin, seperti yang dipahami masyarakat saat ini. Penyakit paru-paru terjadi akibat kondisi udara yang lembab. Akibatnya, sistem saluran pernapasan terganggu akibat kuman dan virus yang berkembang di ruangan yang tingkat kelembaban tinggi yang masuk melalui saluran pernapasan. Penderita asma sangat rentan dengan udara lembab. “Sebagai saran, sebaiknya jangan menjemur pakaian di dalam ruangan karena memicu terjadinya kelembaban udara. Dan seleksi penggunaan alas tidur,” katanya. Peradangan pleura di Indonesia paling sering disebabkan penyakit TBC. Radang di dalam paru-paru ini akan menembus pleura yang lalu menimbulkan cairan. Selain TBC, cairan bisa muncul bila paru-paru terkena bronkhitis, tumor, bahkan masalah di luar paru-paru, seperti demam berdarah, kekurangan albumin, dan lain-lain. Cairan muncul karena peradangan paru-paru mengganggu permeabilitas (keadaan zat yang memungkinkan lewatnya zat lain) pembuluh darah dan saluran getah bening di daerah tersebut sehingga cairan merembes masuk. “Perlu diingat, cairan tersebut bukan merupakan lendir dari saluran napas atas yang turun ke bawah, tetapi muncul karena peradangan,” katanya. Tingkat bahaya penyakit ini tergantung pada penyakit dasarnya. Bila disebabkan tumor atau kanker, maka sangat berbahaya. Sedangkan bila karena TBC, infeksi nonspesifik, kekurangan albumin, atau kuman demam berdarah, biasanya tidak terlalu serius. (sin)

sumber: Sriwijaya Post

Mencegah Paru-paru Basah

Februari 2, 2008

PASTI banyak di antara kita yang memiliki ruang santai dengan karpet yang menghampar sehingga kita sering tertidur dengan hanya beralaskan karpet bahkan tidur di lantai. Bahkan banyak juga yang masih menggunakan kasur langsung beralaskan lantai. Sebaiknya bagi yang memiliki kebiasaan tidur seperti di atas harus mulai waspada jika merasakan gejala sering sesak napas, batuk- batuk berdahak, dan nyeri dada. Bisa jadi gejala itu adalah tanda-tanda paru-paru basah. Bagi yang belum mengalami gejala di atas, sebaiknya ganti cara istirahat tidurnya. “Sebaiknya gunakan ranjang yang agak tinggi karena ranjang yang tinggi akan menghindarkan dari menghirup uap air yang berasal dari lantai. Namun bagi yang sudah merasakan gejala di atas, berhati-hatilah dan segera periksa ke dokter,” kata dr Zen Ahmad.

Biasanya seseorang yang dinyatakan menderita paru-paru basah akan menjalani terapi hingga 6 bulan. Bila benar dinyatakan menderita paru-paru basah, atau merasa mengalami gejala sesak napas, batuk dan sebagainya, Prof dr Hembing menyarankan cara herbal untuk pengobatan. Misalnya, daun Pegagan dan daun Sambiloto. Herbal ini terbukti mampu membantu penyembuhan paru- paru basah. Biasanya pengaruh yang dirasakan pertama adalah hilangnya rasa sesak napas dan nyeri pada dada. (sin)

sumber: Sriwijaya Post

Polusi Udara Picu Kanker Paru

Oktober 26, 2007

Jakarta,Kompas
ANDA yang hidup di kota-kota besar Indonesia tampaknya harus lebih sering berlibur ke kawasan yang udaranya masih bersih. Soalnya, hasil penelitian terbaru menunjukkan, mereka yang terpapar polusi udara jangka panjang-terutama jelaga yang dikeluarkan oleh industri dan knalpot kendaraan-meningkat risikonya terkena kanker paru. Paparan polusi udara ini sama bahayanya dengan hidup bersama seorang perokok dan terkena asapnya setiap hari.

Hasil penelitian Universitas Brigham Young dan Universitas New York yang dimuat jurnal The American Medical Association itu, seperti yang dikutip MSNBC. com, melibatkan data kesehatan 500.000 penduduk urban sejak tahun 1982-1998. Para peneliti juga menganalisa data polusi udara tahunan di lebih dari 100 kota tempat responden tinggal.

Kanker paru terjadi karena tumbuhnya sel-sel yang tak terkendali di paru-paru. Sel-sel kanker ini tidak hanya menggantikan sel-sel normal, tetapi juga menyebar ke seluruh tubuh. Tidak heran bila kanker paru bisa menyebabkan kematian 90 persen penderitanya dalam dua tahun.

Kanker paru membunuh lebih dari sejuta orang setiap tahunnya, dan saat ini menjadi pembunuh utama pria dan wanita. Rokok yang asapnya banyak mengandung zat-zat karsinogenik (pemicu kanker) merupakan penyebab utama kanker paru. Para ahli menyebutkan, 85-90 persen kasus kanker paru disebabkan oleh rokok, baik sebagai perokok aktif maupun pasif. (more…)

Polusi Udara dalam Rumah Mematikan

September 3, 2007

Dubai, Kompas – Polusi udara yang terjadi akibat penggunaan kayu bakar di dalam rumah, secara global menempati 10 besar penyebab kematian, di samping seks bebas, tekanan darah tinggi, dan malaria. Polusi udara dalam rumah diperkirakan jadi penyebab 2,4 juta kasus kematian prematur per tahun.

Antara 10-20 persen bahan bakar biomassa yang digunakan di rumah-rumah tangga tidak terbakar secara sempurna. Hal itu memicu penyebaran polusi ke udara yang sangat membahayakan kesehatan, sebagaimana dipaparkan dalam Global Environment Outlook Year Book 2006.

GEO Year Book 2006 diluncurkan oleh Program Lingkungan Hidup Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) pekan lalu dan dipresentasikan pada pertemuan Dewan Pemerintahan/Forum Kementerian Lingkungan Hidup Global (GC/GMEF), yang berlangsung 7-9 Februari 2006 di Dubai, Uni Emirat Arab.

Menurut GEO Book Year 2006, pasokan dua pertiga kebutuhan energi pada masa depan akan mengandalkan negara-negara berkembang, yang paling sedikit 1,6 miliar penduduknya belum memiliki akses terhadap listrik. Lebih dari separuh penduduk negara sedang berkembang masih bergantung pada bahan bakar biologis termasuk kayu, limbah peternakan dan pertanian untuk memasak dan keperluan lainnya. Sebagian besar pembakaran di dalam rumah. (more…)

Kaitan Polusi dan Penyakit Jantung Pada Perempuan

Agustus 15, 2007

Hidup di daerah perkotaan dengan kualitas udara yang kotor seharusnya membuat kita lebih peduli pada kesehatan. Sebuah penelitian terbaru menyebutkan bahwa polusi udara meningkatkan risiko penyakit jantung, terutama pada kaum perempuan. Semakin tua usia seseorang, makin tinggi dampak buruknya terasa.

Tim ilmuwan dari Universitas Washington, Amerika Serikat (AS), mengamati 66 ribu perempuan sehat berusia 50-79 tahun di 36 kota di AS. Kota-kota tersebut memiliki tingkat pencemaran antara 4-20 mikrogram per kubik meter. Selama 10 tahun, tim peneliti memonitor kesehatan para perempuan tersebut, yang meliputi serangan jantung, stroke, operasi bypass, atau penyakit kardiovaskular.

Ternyata dari seluruh responden sekitar 1.816 perempuan mengalami satu atau lebih masalah yang berkaitan dengan kardiovaskular atau jantung. Data-data tersebut kemudian dibandingkan dengan polusi udara dari tempat mereka tinggal.

Pada udara yang kotor, ada partikel kecil yang diameternya kurang dari 2.5 mikron, jika 30-40 partikel tersebut disatukan lebarnya setara dengan sehelai rambut manusia. Partikel-partikel super kecil yang tidak bisa dilihat dengan mata tersebut akan masuk ke dalam paru-paru. (more…)