For a while it lookes like Jakartanswould be able to breathe cleaner air, at least on Saturday,with motorized vehicles to be banned from entering the Old Town area in West Jakarta. But at the last minute, the city administration cancelled its ground-breaking “No Car Day” project – because the preparation were not complete.
“We were informed by the organizer at a Friday meeting that it had been cancelled due to technical problems “Yosiono Anwar Supalal, an official at the air control division of the City Environmental Management Board said Friday.
No Car Day is the part of the 2005 Air Pollution Control By Law , Which requires the administration to hold the event once a month as part of campaign to reduce dependency on private vehicles.
The West Jakarta municipality was to close streets around the old Town Ares from 6 a.m to 4 p.m and then measure the level of air pollution in the area to determine how much was produced by private cars.
Yosiono said No Car Day would be held in North Jakarta in August and then around Jl. Jend. Sudirman and Jl. Thamrin in Central Jakarta in September.
International Car Free Days Falls on Sept 22. the concept was first introduced in France in 1998 but has quickly become popular in other countries. (lagi…)
Arsip untuk September, 2007
JAKARTA CANCELS ‘NO CAR DAY’
September 25, 2007KEMATIAN BAYI dan POLUSI UDARA
September 18, 2007Dr. Reinhard Kaiser dari Institute of Social and Preventive Medicin, Basel, Swiss menghubungkan kematian bayi di beberapa kota besar di Amerika dengan polusi udara di sana. Penelitian ini menggunakan data dari kematian bayi di Amerika tahun 1997 dan dihubungkan dengan pengamatan polusi udari di Baltimore, Chicago, Detroit, Houston, Los Angeles, New York, Philadelphia dan Seattle.
Dr. Kaiser meneliti partikulat debu dengan dimeter 10 mm (PM10). Debu dengan diameter kurang dari 10 mm (PM10) ini dapat mengakibatkan gangguan pernapasan secara keseluruhan dan dapat berakibat fatal pada bayi. (lagi…)
Waspadai Sumber Polusi di Rumah Anda
September 5, 2007Hati-hati, rumah Anda pun bisa menjadi sumber polusi. Beberapa bahan bangunan yang digunakan dalam rumah bisa memicu hadirnya polusi.
- Gipsum. Beberapa penelitian mengatakan bahwa gipsum yang biasa digunakan sebagai penghias langit-langit rumah dapat membuang partikel yang menjadi sumber pencemaran udara dan juga menimbulkan radiasi. Penelitian itu memang masih belum menunjukkan hasil final, sehingga gipsum masih banyak digunakan untuk gedung maupun rumah.
- Mebel atau furniture yang baru saja dibeli. Pelarut organik untuk pelitur yang belum menguap seluruhnya dapat mencemari ruangan. Kadarnya memang tidak setinggi pada bahan lem sehingga tidak menimbulkan mabuk, tapi seringkali menyebabkan sakit kepala.
- Asbes. Bila pengolahannya tidak sempurna menyebabkan ada partikel yang bisa lepas dan menimbulkan polusi dalam ruangan.
Cat rumah. Masih banyak ditemukan Pb (timbal) sebagai bahan pembuat cat. Pelarutnya juga banyak menimbulkan masalah kesehatan. Gangguan pada syaraf bisa terjadi bila pengecatan tidak sempurna. (lagi…)
Polusi Udara dalam Rumah Mematikan
September 3, 2007Dubai, Kompas – Polusi udara yang terjadi akibat penggunaan kayu bakar di dalam rumah, secara global menempati 10 besar penyebab kematian, di samping seks bebas, tekanan darah tinggi, dan malaria. Polusi udara dalam rumah diperkirakan jadi penyebab 2,4 juta kasus kematian prematur per tahun.
Antara 10-20 persen bahan bakar biomassa yang digunakan di rumah-rumah tangga tidak terbakar secara sempurna. Hal itu memicu penyebaran polusi ke udara yang sangat membahayakan kesehatan, sebagaimana dipaparkan dalam Global Environment Outlook Year Book 2006.
GEO Year Book 2006 diluncurkan oleh Program Lingkungan Hidup Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) pekan lalu dan dipresentasikan pada pertemuan Dewan Pemerintahan/Forum Kementerian Lingkungan Hidup Global (GC/GMEF), yang berlangsung 7-9 Februari 2006 di Dubai, Uni Emirat Arab.
Menurut GEO Book Year 2006, pasokan dua pertiga kebutuhan energi pada masa depan akan mengandalkan negara-negara berkembang, yang paling sedikit 1,6 miliar penduduknya belum memiliki akses terhadap listrik. Lebih dari separuh penduduk negara sedang berkembang masih bergantung pada bahan bakar biologis termasuk kayu, limbah peternakan dan pertanian untuk memasak dan keperluan lainnya. Sebagian besar pembakaran di dalam rumah. (lagi…)